Menjemput Jodoh di Internet


Penulis: M. Sholekhudin

Michael J. Rosenfeld, sosiolog Stanford University, baru-baru ini memublikasikan penelitiannya di AS: internet menempati urutan ketiga sebagai media terpopuler untuk mencari pasangan hidup. Di Indonesia, kita memang masih kekurangan data penelitian semacam ini. Tapi dari riuhnya media sosial di internet, kita bisa menduga-duga, masyarakat Indonesia juga menuju ke arah sana.

Lesna Purnawan , pemuda asal Wonogiri, Jawa Tengah, masih berusia 22 tahun saat ia berkenalan lewat    Facebook dengan Anie Pujiyati. Kebetulan keduanya berasal dari Wonogiri. Anie lulusan sebuah perguruan tinggi di Bogor, Lesna menempuh kuliah di Bekasi. Saat itu Lesna tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, sementara Anie di Semarang.

Awalnya perkenalan mereka cuma sebatas friend biasa. Sama seperti status kawan-kawan Lesna lainnya yang jumlahnya di atas dua ribu. Sekalipun bukan pecandu Facebook, Lesna cukup rajin menjalin perkawanan dunia maya. Banyak di antara kawan dunia maya itu kemudian menjadi kawan dunia nyata.   Suatu kali di bulan November 2009, Lesna berkunjung ke rumah neneknya di Semarang. Saat itu ia masih berstatus anggota IJO LUMUT (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut :p). Tiba di Semarang, ia mengisi status, “@ Semarang”. Anie, yang saat itu masih dianggap hanya “seseorang” oleh Lesna, mengomentari statusnya, “Silakan mampir”.

Itu adalah komentar pertama Anie di dinding Facebook Lesna. Setelah komentar ini, mereka saling berkirim pesan lewat inbox pribadi dan saling bertukar nomor telepon. Selanjutnya bisa diduga, mereka mengatur rencana kopi darat. Prosesnya cepat sekali. Mereka saling berkomentar di Facebook pada Jumat malam, dan Sabtu paginya mereka sudah bertemu. Tempatnya disepakati, Java Mall. Di sana mereka mengobrol ngalor-ngidul layaknya dua orang yang baru kenal.

Rupanya pertemuan pertama itu cukup membuat Lesna maupun Anie berkesimpulan bahwa keduanya cocok satu sama lain. Sejak itu mereka berkomunikasi lebih intens. Yang sungguh di luar kebiasaan adalah cepatnya perubahan status keduanya setelah pertemuan itu. Dua minggu kemudian, Lesna kembali lagi ke Semarang untuk menemui Anie. Lalu kedunya pergi ke Wonogiri, ke rumah orangtua Anie. Tidak main-main, Lesna langsung melamar Anie. Tidak sampai tiga bulan kemudian, di bulan Januari 2010, mereka menikah.

Semua proses berlangsung kilat. Lesna mengaku tak butuh terlalu banyak pertimbangan untuk pergi ke Kantor Urusan Agama. “Dia orang baik dan pinter. Kami juga sama-sama dari Wonogiri. Enaknya, kalau pulang kampung kan searah, tidak repot,” katanya seraya tertawa.

Dia sama sekali tidak khawatir salah pilih seperti membeli kucing di dalam karung. Dengan santai ia mengatakan bahwa perempuan bernama Anie itu bukanlah kucing dan Facebook bukanlah karung. Ini hanya masalah cara. Sama seperti cara sebagian orang memilih mencari pasangan lewat perkawanan di dunia kerja atau kuliah.

Bagi Lesna, medapat jodoh hanya salah satu bonus yang ia peroleh dari Facebook. Lesna sudah biasa mencari kawan bahkan proyek-proyek pekerjaan lewat Facebook. Sekarang usia pernikahan sudah setahun lebih. Mereka juga sudah dikarunia satu orang anak laki-laki.  

Fenomena masyarakat digital
Sekalipun di Indonesia belum ada data penelitian seperti di AS, Widiawati Bayu, psikolog di lembaga konsultasi Kasandra & Associates berpendapat, fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Sebagai psikolog, ia sering berhadapan dengan klien atau sahabat yang punya cerita seputar perjodohan di internet. Sebagian cerita itu berupa cerita gembira, sebagian lagi cerita tidak enak.

Ketika jejaring sosial masih dikuasai oleh Myspace, seorang kawan perempuan Widiawati sudah memanfaatkan media sosial untuk tujuan ini. Si perempuan tinggal di Indonesia sementara yang laki-laki di luar negeri. Sekalipun keduanya belum pernah bertemu muka, hubungan jarak jauh ini berjalan mulus. Kebetulan keduanya sudah sama-sama dewasa, berkepribadian stabil, sama-sama tahu tentang tujuan hidup dan pernikahan. Si pria bahkan kemudian bersedia datang ke Indonesia. Setelah kopi darat itu, mereka kemudian jadian, menikah, dan sekarang sudah punya anak.

Kisah ini terjadi jauh sebelum Facebook populer di Indonesia. Sekarang, ketika internet bisa diakses lewat ponsel seharga Rp 300.000,-, setiap orang bisa punya akun di internet dan menyatakan dirinya SINGLE, INTERESTED IN WOMEN/MEN.

Di masa kini, internet adalah media interaksi yang dominan. Maka wajar jika banyak interaksi dunia nyata yang berpindah tempat ke dunia maya. Teknologi bukan hanya mengubah cara manusia membeli benda-benda, tapi juga mengubah cara manusia mencari jodoh.

Di sini teknologi berperan mendorong evolusi interaksi. Dulu orang menikah lewat perjodohan yang diatur oleh keluarga, tanpa melewati proses psikologis yang kita kenal sebagai “jatuh cinta” lebih dulu. Kini ketika hubungan anak-orangtua dan pria-wanita makin setara, orang yang akan berjodoh memiliki lebih banyak pilihan mandiri.

Metode perjodohan akan terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Dalam perjodohan online, kata Widiawati, fungsi internet di sini bukanlah menggantikan interaksi dunia nyata, melainkan meningkatkan kemungkinan orang berinteraksi. Facebook dan sejenisnya meningkatkan kemungkinan orang berkenalan. Setelah perkenalan awal lewat internet, tahap selanjutnya tetap seperti biasa. Ada pertemuan langsung, penjajakan, lamaran, baru menikah.

Di sini kita bisa melihat, di dunia perjodohan ada yang tetap, ada pula yang berubah. Bagaimanapun, perkara perjodohan melibatkan banyak faktor seperti ketertarikan seksual, cinta, budaya, dan bahkan keyakinan pada nilai-nilai agama. Dan kita tahu, seks adalah perkara biologi, cinta urusan psikologi, metode perjodohan ihwal sosio-antropologi, tapi pada akhirnya, pernikahan tetap tidak bisa dipisahkan dari urusan teologi. Seks, cinta, dan agama tak banyak berubah. Yang berubah karena internet hanya metode perjodohannya.

Boks-1:
6 Fakta Perjodohan Online
Jeremy Dean, psikolog University College London, menghimpun beberapa fakta mengenai perjodohan online berdasarkan hasil penelitian di Inggris dan AS.

1.     Pencari jodoh di internet bukanlah para pengecut atau pecundang. Selama ini ada pandangan miring bahwa pencari jodoh di internet biasanya orang yang “tidak laku” di dunia nyata. Faktanya tidak demikian. Mencari jodoh di internet semata-mata masalah pilihan metode di dunia modern yang serbadigital. Dunia sekarang berbeda dari dunia sepuluh tahun lalu.

2.     Para pencari jodoh di internet menggunakan foto terbaik yang “lebih indah dari aslinya”. Ini mudah sekali dipahami. Dengan pencahayaan, sudut dan teknik pemotretan yang baik, hasil jepretan memang bisa tampak lebih cantik atau lebih tampan dari aslinya. Belum lagi rekayasa gambar dengan program semacam Photoshop. Yang berjerawat bisa kelihatan mulus, yang berwajah gelap bisa tampak kinclong, yang centil bisa kelihatan anggun sehingga meningkatkan kemungkinan jatuh cinta di klik pertama. Tapi sisi buruknya, kadang setelah kedua pihak bertemu, masing-masing merasa kecewa karena kenalannya tidak sesuai dengan yang dibayangkan sebelumnya.

3.     Para pencari jodoh di internet pernah berbohong. Kebohongan memang tidak selalu berupa kebohongan tingkat berat. Paling sering berupa kebohongan menengah, misalnya menampilkan data profil yang kelihatan lebih bagus dari aslinya. Internet, dengan sifatnya yang begitu gampang diisi dan diedit, memang memberi kemudahan penggunanya untuk memalsukan data. Internet bisa membuat orang lupa bahwa dia sedang jatuh cinta kepada foto atau tulisan, bukan kepada seseorang secara utuh. “Saat kami bertemu, dia memang secantik fotonya. Tapi setelah menikah, saya baru tahu ternyata dia waria,” ini cerita lucu Wolfgang Zober, laki-laki Jerman yang tertipu kenalannya di Facebook, seperti dikutip situs http://www.ananova.com. “Ia jujur mengaku sudah memiliki dua anak. Tapi ternyata ia sebagai bapak, bukan ibu,” katanya.

4.     Sebagian besar orang memilih calon pasangan berdasarkan unsur kesamaan, misalnya hobi, pendidikan, atau minat. Ini merupakan kecenderungan perjodohan dunia nyata yang tidak banyak berubah di dunia maya. Ibarat pepatah, enggang sama enggang, pipit sama pipit. Hanya sebagian kecil yang memilih pasangan berdasarkan unsur perbedaan karena dilandasi tujuan ingin saling melengkapi.

5.     Dibandingkan perjodohan dunia nyata, perjodohan online memperbesar perbedaan usia dan tempat tinggal antarcalon pasangan. Sekalipun sebagian orang berpikir seperti Lesna yang mencari pasangan satu daerah, perjodohan online secara umum tetap memperbesar peluang perbedaan. Ini mudah dipahami karena internet terbebas dari batas geografis. Orang dari belahan Bumi timur bisa bertemu dengan orang dari belahan Bumi barat. Pasangan beda kota, bahkan beda negara makin lazim terjadi.

6.     Saat penapisan memilih calon pasangan, pencari jodoh di internet punya kecenderungan “relationshopping”, bersikap seperti pembeli barang. Seolah-olah mereka sedang melihat katalog produk. Mereka memeriksa sangat banyak profil hanya untuk memilih sedikit untuk dijajaki, seperti memilih sebungkus cokelat di etalase toko swalayan. Millsom Henry-Waring, sosiolog University of Melbourne, menyebut fenomena dunia materialisme ini sebagai kecenderungan orang menganggap calon pasangan sebagai “komoditas” yang nilainya cukup ditaksir lewat satu-dua klik.

Boks-2:
Berbahaya Jika…
Internet adalah media interaksi masa kini dan masa depan. Jika berada di tangan orang yang sudah dewasa seperti Lesna, media semacam ini jelas bisa sangat bermanfaat. Namun, jika penggunanya adalah remaja-remaja yang emosinya masih labil, media sosial macam ini bisa sangat berbahaya. Ini setidaknya bisa kita lihat dari banyaknya berita tentang remaja yang menjadi korban kejahatan setelah punya janji bertemu dengan seseorang yang ia kenal di Facebook.

Para korban ini, kata Widiawati, umumnya perempuan, masih usia SMA atau kuliah, secara emosional belum matang, dan punya masalah sosialisasi. Kebanyakan dari mereka punya hambatan komunikasi dengan orangtua, berkepribadian cenderung tertutup, tidak mudah berbagi cerita dengan orang lain. Karena merasa tertekan dengan status jomblo di dunia nyata, mereka kemudian mencari pacar di dunia maya. Mereka tidak begitu sadar bahwa di dunia ini, para “predator” bertebaran di mana-mana dengan berbagai kamuflase. Karena masih belum dewasa, mereka belum bisa memaknai status pertemanan di Facebook dan dengan mudah dikibuli oleh orang yang baru mereka kenal.

Dalam kehidupan nyata kita nyaris tidak bisa membedakan penampilan orang-orang yang rentan di dunia maya ini. Widiawati menuturkan, ia pernah menangani klien remaja putri yang, katanya, jika kita melihat penampilannya, kita tidak akan menduga dia bisa sampai melakukan hubungan seks siber. Yang mengeksploitasi remaja ini adalah “pacarnya”, seorang pria dewasa yang usianya jauh lebih tua dari dia.

Cerita serupa juga dialami oleh teman Lesna, remaja putri, usia 20 tahun. Dia berkenalan dengan seseorang yang mengaku tinggal di Palembang, Sumatra Selatan. Di Facebook, mereka berkomunikasi cukup intens sehingga remaja putri ini sama sekali tidak mencurigai akal bulus kenalannya ini.

Si pria rupanya cukup terlatih menipu orang. Ia sengaja berpura-pura sebagai kawan dalam tempo cukup lama sampai remaja putri ini betul-betul percaya kepadanya. Saking percayanya, ia sampai bersedia mengirim uang buat pria tersebut untuk, katanya, “biaya perjalanan dari Palembang ke Jakarta”. Pria itu memang benar-benar menemuinya di Jakarta. Ketika keduanya bertemu, pria ini bahkan sempat meminjam sepeda motor milik si gadis. Namun, tunggu-ditunggu, pria itu tidak kembali. Saat itulah gadis tersebut baru sadar ia telah diperdaya.

Di sinilah fungsi penting orangtua sebagai teman bagi anaknya. Sayangnya, kata Widiawati, masih banyak orangtua yang tidak menjalankan fungsi ini. Mereka tidak tahu dan tidak mau tahu dunia Facebook, Twitter, dan sejenisnya. Padahal di dunia itulah anak-anak mereka berinteraksi dan sangat mungkin bertemu dengan jodohnya.

By lesnapurnawan

One comment on “Menjemput Jodoh di Internet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s