HATI-HATI NONGKRONG DI JALAN

Hati-hati Nongkrong di Jalan

LESNAPURNAWAN

Berhati-hatilah duduk-duduk di pinggir jalan. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, bagi kami sesuatu yang tidak dapat kami tinggalkan. Dalam berkumpul itu kami berbincang-bincang." Nabi SAW menjawab, "Kalau memang suatu keharusan, maka berilah jalan itu haknya." Mereka bertanya lagi, "Apa yang dimaksud haknya itu, ya Rasulullah?" Nabi SAW menjawab, "Palingkan pandanganmu dan jangan menimbulkan gangguan. Jawablah tiap ucapan salam dan ber-amar ma'ruf nahi munkar." (HR. Bukhari dan Muslim) Duduk-duduk di pinggir jalan memang mengasyikkan. Disamping pasang aksi dan jual tampang, juga mengobrol ke sana ke mari, bercanda ria, dan menikmati pemandangan di depannya. Menggoda orang yang lewat, terutama perempuan tidak terlepas dari aktivitas itu. Bahkan sampai berani mengganggu dan merayu. Kegiatan seperti ini telah menjadi kesenangan dan membudaya di kalangan muda-mudi dari zaman ke zaman. Malahan bukan hanya pemuda-pemudi saja yang menyenangi duduk-duduk di pinggir jalan ini, tapi pada tingkat orang dewasa dan orang tua juga menyukainya. Di zaman Rasulullah SAW hal ini pun merupakan kesenangan para sahabat, sehingga beliau mewanti-wanti dan memberi batasan tentang adab-adab yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang senang duduk-duduk di pinggir jalan. Di antara ketentuan-ketentuan itu seperti dalam hadits di atas :

Pertama, palingkan pandangan. Pandangan mata, sesuatu hal yang membahayakan karena akan mempengaruhi hati dan menggerakkan nafsu birahi yang bergejolak. Walaupun cepatnya pandangan secepat larinya anak panah dari busurnya, ia akan menyangkut dalam hati. Dan hati bisa menyeret pada keinginan untuk melampiaskan hasratnya itu. Karena berbahaya pandangan mata itu, Allah memerintahkan untuk menundukkan pandangan itu. Perintah ini tertera dalam surah An-Nuur 30-31 : Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka..... Ibnu Qayyim berkata, "Pandangan mata adalah penyebab dan penggerak utama adanya nafsu birahi, maka menjaga pandangan mata merupakan penjagaan atas kemaluan. Barangsiapa membiarkan pandangan matanya berkeliaran untuk melihat sela-sela kemaksiatan, sesungguhnya Allah telah menciptakan sebagai cermin dari hati. Jika hamba ini menggerakkan matanya guna memandang barang haram, niscaya hatinya akan menggerakkan dan mempengaruhi nafsu birahi dan hasratnya. Dan jika seseorang memelihara pandangan matanyanya, niscaya hati tidak akan menggerakkan nafsu birahi.

Kedua, jangan mengganggu. Nongkrong-nongkrong di pinggir jalan terasa kurang asyik bila tidak menggoda dan mengganggu orang. Gatal lidah rasanya bila tidak melontarkan kata-kata pada orang yang lewat di depan matanya. Keinginan itu pastilah muncul bagi orang yang senang duduk-duduk di pinggir jalan, bahkan ada juga yang tujuannya memang demikian. Untuk Rasulullah SAW memberikan persyaratan untuk tidak mengganggu orang, bila pekerjaan nongkrong di pinggir jalan ini tidak bisa ditinggalkan. "Kaffuladzai", jangan menimbulkan gangguan.

Ketiga, membalas ucapan salam. Islam telah mengatur tentang adab-adab salam sedemikian rupa, yang mencakup hukum memberi salam, hukum menjawabnya dan siapa yang lebih duluan salam. Apabila berjumpa sesama muslim, Rasulullah memerintahkan untuk saling mengucapkan salam. Yang mendahului memberi salam kepada yang tua, yang lewat kepada yang duduk, yang berkendaraan kepada yang berjalan kaki, yang berjumlah sedikit kepada yang banyak, dan laki-laki memberi salam kepada wanita. Wanita dilarang memberi salam kepada laki-laki. Berdosa hukumnya bila ada salam tidak dijawab, karena hukum menjawab salam adalah wajib. Maka dengan itu Rasulullah memerintahkan untuk selalu menjawab salam orang yang lewat ketika kita nongkrong di pinggir jalan.

Keempat, ber-amar ma'ruf nahi munkar. Bila suatu ketika di depan mata kita terjadi kezaliman, jangan sampai dibiarkan terjadi tanpa kita turun untuk mencegahnya. Sudah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk ber-amar ma'ruf nahi munkar. Cegahlah dengan tangan, atau dengan hati, tapi itu selemah-lemahnya iman. Jangan biarkan kemungkaran terjadi di depan mata kita, apalagi kita mampu untuk mencegahnya. Jika kita membiarkan, tunggulah siksa Allah di hari pembalasan kelak. "Sesungguhnya Allah Azza Wajalla tidak menyiksa awam karena perbuatan dosa orang-orang yang khusus sehingga mereka melihat kemungkaran di hadapan mereka dan mereka mampu mencegahnya, tetapi mereka tidak mencegahnya. Kalau mereka berbuat demikian maka Allah menyiksa yang khusus dan yang awam." (HR. Ahmad dan At-Thabrani).

Kelima, tunjuki jalan bagi orang yang bertanya. Kewajiban lainnya bagi orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan adalah memberikan bantuan dan menerangkan dengan jelas bagi orang yang memerlukan bantuan tersebut. Layani dengan baik, tanya apa keperluannya, mau ke mana, dan jawablah dengan baik lantas tunjuki jalan atau tempat yang dia cari, lebih baik lagi kalau diantarkan ke tempat yang dituju. Itulah kewajiban yang diperintahkan Rasulullah kepada orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan. Nabi SAW mendatangi serombongan orang yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan, lalu beliau berkata, "kalau memang harus kamu lakukan maka balaslah ucapan salam dan tolonglah orang yang dizalimi. Tunjuki jalan bagi orang yang bertanya." (HR. Abu Daud) Jelaslah bahwa Rasulullah SAW selalu menegur pada orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan. Memalingkan pandangan, jangan mengganggu, menjawab salam, ber-amar ma'ruf nahi munkar, menolong orang yang dizalimi, dan menunjukkan jalan bagi orang yang bertanya. Bila hal-hal ini tidak bisa dilaksanakan, maka sebaiknya menghindari untuk duduk-duduk di pinggir jalan. Perbuatan ini membuka peluang untuk mengerjakan maksiat dan terus menambah tabungan dosa kita, yang akan dipertanggungjawabkan di hari kemudian. Pekerjaan yang demikian bila kita jauhi akan menghindarkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna, dan ini merupakan ciri orang beriman yang beruntung.

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna." (QS. Al-Mu'minun: 1-3).

Kampanye Pemilu tinggal sekitar dua setengah bulan lagi. Suasana hangat sudah mulai muncul, sekalipun secara resmi acara kampanye belum dimulai. Konvoi di jalanan juga sudah mulai marak, lagi-lagi sekalipun secara 'resmi' acara demikian dihapuskan dari agenda kampanye. Lembar Jum'at kok bicara kampanye dan pemilu? Bukan untuk ikut-ikutan, tapi sekedar mengingatkan, selayaknyalah ummat Islam bisa menimbang dan mengambil langkah yang tepat sesuai jati dirinya. Pemilu awalnya adalah budaya Barat sebagai salah satu cara untuk menentukan keputusan, yakni berdasarkan suara terbanyak. Islam tidak menganut cara memutuskan demikian untuk hal-hal prinsip, karena ukuran kebenaran dalam Islam adalah berdasar sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah. Sekalipun secara mayoritas --misalnya-- ada kesepakatan bahwa judi diperbolehkan karena sangat potensial mendatangkan dana, Islam tetap tidak akan menyetujuinya. Seratus persenpun hasil pemungutan suaranya, tetap akan ditolak. Soal prinsip seperti ini tidak bisa ditentukan berdasarkan kesepakatan manusia. Apakah pemilu kemudian tidak perlu? Perlu, sepanjang masih bisa dilaksanakan secara baik, benar, dan jujur. Dan dalam konteks untuk memilih sosok pemimpin, pemilu juga relevan, karena saat ini tidak ada otoritas yang lebih dipercaya dunia internasional dibanding pemilu (yang sehat). Adapun bila pelaksanaannya tidak memenuhi syarat 'kesehatan', dipersilakan kepada para partisipan untuk menentukan sendiri sikapnya. Misalnya, karena pemilu ini memilih 'wakil', bila ternyata tidak ada kecocokan dengan wakil yang diajukan, ya tidak perlu dipaksakan. Toh pemilu itu acaranya seluruh warga, bukan milik satu pihak dengan mengundang pihak lain. Hal kedua yang perlu direnungkan adalah tentang kampanye. Apakah Islam mengajarkan untuk menawarkan diri agar dipilih untuk suatu jabatan? Ternyata tidak. Justru Nabi pernah berjanji, tidak akan memberikan jabatan kepada siapapun yang memintanya. Karena pasti ada tendensi tertentu di sana. Kampanye menjadi populer di kalangan ummat, karena prinsip seperti Nabi itu sudah dilupakan orang. Kini kita ikut-ikutan seperti Bill Clinton yang berjanji ini-itu bila terpilih jadi presiden. Padahal secara logika, orang seperti Clinton punya kepentingan sendiri berhubungan dengan jabatannya. Ia mendapat dukungan dana dari banyak pelaku bisnis. Pasti setelah berhasil menjadi presiden, yang pertama kali harus dibalas budinya adalah para sponsor itu. Bagi ummat Islam, kampanye tidak perlu gembar-gembor. Orang dipilih atau tidak, adalah berdasar apa yang telah dilakukannya selama ini, bukan janji-janji yang belum tentu bisa diwujudkan. Bila prestasinya baik, maka akan diakui masyarakat, dan nyata. Lain dengan beberapa wakil rakyat saat ini yang sering tidak dikenal sebelumnya, tiba-tiba muncul dan 'mewakili' entah siapa. Orang demikian bahkan lebih kejam lagi dibanding dengan yang meminta jabatan.

Buletin AL Qalam

By lesnapurnawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s