Wanita hamil Pranikah

Wanita hamil Pranikah

 lesnapurnawan

 

1.      Pengertian Kehamilan pra nikah

Kehamilan merupakan perubahan keadaan yang relatif baru, khususnya bagi wanita yang baru pertama kali mengalaminya. Pada masa ini terjadi perubahan fisik yang mempengaruhi gerakan maupun aktivitas wanita tersebut sehari-hari. Disamping itu sebagai calon ibu, dalam hal ini ibu dari anak-anak yang akan dilahirkanya, membawa perubahan peran yang harus di jalankanya. (Brice Pitt ,1963)

Pada waktu hamil, menurut, Dianawati (2002 ) wanita dihadapkan pada beberapa keadaan yang mungkin dapat terjadi sehubungan dengan kehamilan itu, seperti perkembangan dan keselamatan janin dalam kandunganya sampai tiba waktunya untuk dilahirkan juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi ketika melahirkan, baik bagi dirinya maupun bagi bayinya. wanita dihadapkan pada kemungkinan bayinya dilahirkan dengan membawa kelainan-kelainan (cacat bawaan). Pada kehamilan juga terjadi perubahan hormonal yang menimbulkan rasa cemas, iritasi, mual, pusing, letih, dan sebagainya yang mempengaruhi suasana emosi serta penyesuaian diri pada wanita itu, terutama dalam bulan-bulan pertama dari kehamilan, keadaan ini merupakan hal yang normal dan dialami oleh banyak orang. Keadaan menjadi lebih serius jika disertai perasaan atau sikap negatif terhadap kehamilan, sehingga kecemasan berkepanjangan. Konflik laten yang dalam keadaan biasa (tidak hamil) dapat diatasi, pada masa ini dapat menjadi akut.

Tidak semua wanita menghendaki kehamilan, setidak-tidaknya untuk saat itu, dengan berbagai alasan tertentu. Terjadinya aborsi, pemakaian alat kontrasepsi yang makin meluas, merupakan bukti yang nyata. Kegagalan kontrasepsi, kehamilan di luar rencana, pada sebagian wanita menimbulkan penolakan terhadap kehamilanya tersebut, pun setelah anak itu lahir. (Brice Pitt, 1963).

Namun demikian, tidak berarti semua wanita yang ingin hamil akan menerima dengan senang hati kehamilanya. Hal ini dapat dipahami mengingat seringkali adanya tujuan-tujuan tertentu dibalik keinginanya untuk menjadi hamil, seperti untuk menyambung keturunan, mempererat hubungan dengan pasangan hidup, memenuhi harapan orang tua, membuktikan kesuburanya serta keperkasaan suaminya, protes remaja terhadap orang tua yang mengatur perjodohanya, dan sebagainya. Jadi mungkin saja sebab utama dari keinginan untuk hamil bukan semata-mata untuk mempunyai anak, tetapi kehamilan dan mempunyai anak merupakan suatu sarana untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Proses kehamilan yang awalnya menjadi hal yang bahagia bagi pasangan  yang  terikat oleh jalinan perkawinan namun sebaliknya proses kehamilan itu akan menjadi malapetaka bagi pasangan yang belum terikat oleh jalinan perkawinan yang sah atau bisa di sebut hubungan seksual pranikah.  Istilah “hubungan seksual pranikah” sudah merupakan hal yang asing lagi, baik di kalangan masyarakat ilmuan maupun di kalangan masyarakat awam. Bila diperhatikan istilah ini satu persatu, yang dimaksud dengan hubungan seksual pranikah adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh sepasang insan sebelum mereka diikat oleh tali perkawina. Kartono (1996) yaitu kehamilan pranikah pada umumnya tidak direncanakan dan menimbulkan perasaan bersalah, berdosa dan malu pada remaja yang mengalaminya, ditambah lagi dengan adanya sangsi sosial dari masyarakat terhadap kehamilan dan kelahiran anak tampa ikatan pernikahan.

Duval dan Miller (1985) menjelaskan, bahwa bentuk-bentuk keintiman heteroseksual yang dilakukan oleh sepasang manusia mengikuti suatu proses peningkatan, yaitu mulai dari :

  1. Sentuhan (hanya berupa pegangan tangan, pelukan)
  2. Cium (mulai dari kecupan sampai deep kissing)
  3. Petting, yaitu meraba-raba daerah erotik pasanagan (biasanya mulai dari yang ringan/light pettng sampai meraba alat kelamin)
  4. Hubungan seksual (sexsual intercourse)

Zastrow ( 1987 ) Mengungkapkan beberapa penyebab kehamilan yang dialami oleh  para remaja :

  1. Penyebab utama terjadinya kehamilan adalah misinformasi atau kurangnya informasi yang relevan.
  2.  Mengabaikan bahwa tingkah laku seksual akan menyebabkan kehamilan dan berasumsi bahwa pasanganyalah yang menggunakan kontrasepsi walaupun kenyataan tidak tidak demikian. Banyak remaja yang enggan menggunakan alat kontrasepsi dengan alasan bahwa mereka tidak mungkin hamil atau kemungkinan hamil sangat kecil (Papalia & Old, 1995). Selain itu banyak yang berfikir bahwa menggunakan kontrasepsi adalah tindakan yang tidak bermoral, seolah-olah mereka merencanakan akan melakukan hubungan seksual. Alasan lain tidak digunakanya kontrasepsi adalah kekhawatiran bahwa kenikmatan dan spontanitas dalam hubungan seks akan berkurang atau timbul masalah yang berhubungan dengan kesehatan.
  3. Bagi beberapa gadis, mereka tidak memperdulikan apakah mereka akan hamil atau tidak. Bagi mereka kehamilan membuktikan feminitas, merengutkan status kedewasaan dan merupakan alat untuk mendapat perhatiaan orang tua dan teman. Bahkan ada yang menggunakan kehamilan sebagai cara untuk mengatasi masalah, untuk menghukum, atau justru merupakan rewad bagi orang lain.
  4. Menyalahartikan atau kebingungan dalam mengartikan konsep cinta, keintiman dan tingkah laku seksual. Remaja awal cenderung berfikir bahwa seks adalah cara untuk mendapatkan pasangan, sedangkan remaja akhir cenderung melakukan tingkah laku seksual jika telah ada ikatan dan saling pengertian dengan pasangan. Seks sering dijadikan saran untuk berkomunikasi dengan pasangan.

2.      Gejala awal kehamilan

Menurut Dianawati ( 2002 )  gejala-gejala  awal yang terjadi pada proses kehamilan  diantaranya ditandai dengan  :

  1. Tidak datangnya menstruasi

Seseorang yang telah melakukan hubungan seksual wajib memeriksakan diri ke dokter jika dalam waktu satu minggu atau lebih tidak mendapatkan menstruasi dari jadwal yang seharusnya. Kemungkinan besar dia telah hamil.

  1. Perubahan pada payudara

Biasanya, menjelang menstruasi, payudara perempuan akan terasa kencang dan padat. Penyebabnya, jumlah hormon estrogen dalam tubuh meningkat. Kondisi seperti itu akan hilang dengan sendirinya bersamaan dengan berakhirnya masa menstruasi. Lain lagi jika terjadinya kehamilan, memadat dan mengencangnya payudara akan berlangsung lama dan akan semakin membesar disertai dengan rasa kesemutan. Semua perubahan ini terjadi karena pengaruh hormon estrogen dan progeteron, yang sudah berfungsi untuk memproduksi air susu. Selain itu, saluran-saluran jaringan payudara telah dialiri darah.

  1. Sering buang air kecil

Hal ini biasanya terjadinya pada awal kehamilan. Penyebabnya adalah ginjal bekerja terlalu berlebihan sehingga kantung kencing pun akan cepat terisi.

  1. Mual-mual dan muntah

Gejala ini biasanya terjadi pada pagi hari. Dari gejala ini dapat diketahui bahwa ia hamil, setelah lebih dari 1 minggu menstruasinya tidak datang. Gejalaini akan hilang setelah memasuki 12 minggu sejak masa hamilan. Tidak setiap perempuan mengalami gejala ini. Faktor yang menjadi penyebab timbulnya gejala ini masih tidak jelas. Namun, kemungkinan faktor emosi dan kecemasan.

4.       Dampak Kehamilan bagi remaja

Menurut Bolton (1980) ada berbagai dampak yang dialami akibat kehamilan diantaranya adalah :

  1. Terhambatnya tugas perkembangan

Banyak tugas perkembangan yang tidak dapat diselesaikan oleh remaja akibat kehamilan. Bahkan ada tugas-tugas yang akan dilewati begitu saja akibat tuntutan untuk menjalankan peran barunya sebagai orang dewasa, padahal dalam perkembanganya yang normal remaja harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu, bisa memasuki tahap perkembangan selanjutnya.

  1. Disfungsi keluarga

Sebagai anggota keluarga, remaja yang hamil seringkali dianggap sebagai pembawa krisis atau permasalahan dalam keluarga. Permasalahan ini tidak bisa dielakan dan menuntut adanya penyesuaian dari seluruh anggota keluarga, dan sangat potensial untuk menimbulkan konflik dan stress.

  1. Resiko kesehatan

Dalam menjalani masa kehamilan, remaja mempunyai beberapa tugas berkaitan dengan perawatan dirinya. Hal ini seringkali melelahkan dan menjadi beban sehingga remaja tidak mengindahkan beberapa hal yang penting berkaitan dengan perawatan kehamilanya. Hal ini cukup beresiko bagi kelangsungan hidup remaja tersebut dan bayi dikandungnya.

  1. Konflik emosional

Konflik yang dialami akan meningkatkan pada saat terjadinya interaksi antara tuntutan dari lingkungan sosial remaja dengan kewajibanya untuk mengasuh anak. Sebagai remaja kebutuhan bersosialisasi masih tinggi, karena itu pekerjaan merawat anak seringkali dirasakan membebani dan mengganggu dunia remajanya.

  1. Defisiensi dalam bidang pendidikan dan pekerjaan

Santrock (1996) menyatakan bahwa remaja yang kehamilan umumnya terhambat dalam hal pendidikan. Walaupun mereka akhirnya meneruskan pendidikan tetapi mereka tetap tidak bisa menyamai remaja pada umumnya.

By lesnapurnawan

One comment on “Wanita hamil Pranikah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s